Tangerang– Setelah melakukan uji coba Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah untuk anak pekerja migran Indonesia di Malaysia pada tahun 2025, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tahun ini memperluas implementasi PJJ jenjang pendidikan menengah di 34 provinsi. Perluasan ini menargetkan 3.500 anak tidak sekolah (ATS) untuk dapat kembali bersekolah serta menjadi upaya untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan berkeadilan.
PJJ merupakan salah satu inisiatif Kemendikdasmen untuk membuka akses bagi ATS jenjang pendidikan menengah yang berdasarkan data dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen, saat ini berjumlah sekitar 1,13 juta dari 4 juta ATS yang ada saat ini dengan berbagai alasan.
Prioritas pelaksanaan PJJ saat ini untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), daerah dengan ATS tinggi, daerah rawan bencana, serta Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) dengan anak pekerja migran Indonesia yang tinggi. PJJ ini dilaksanakan untuk menjangkau ATS dengan rentang usia 16 s.d. 18 tahun.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan, program PJJ merupakan bagian dari komitmen Kemendikdasmen untuk memastikan setiap anak Indonesia dapat memperoleh layanan pendidikan yang bermutu, tanpa terkendala faktor geografis, ekonomi, maupun kondisi sosial lainnya.
“Kita harus menekankan bahwa pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebatas kegiatan formal di ruang kelas, melainkan sebagai proses pembelajaran yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan paradigma tersebut kami ingin menjangkau yang mereka yang tidak terjangkau sehingga PJJ ini menjadi solusi nyata untuk menjawab tantangan pemerataan akses pendidikan,” ungkap Abdul Mu’ti, di Kabupaten Tangerang, Kamis (23/4).
Abdul Mu’ti turut menyoroti tentang pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam implementasi program ini. Ia menyebut, Kemendikdasmen terus mendorong pengembangan pembelajaran berbasis teknologi, termasuk rencana pembangunan studio pembelajaran yang memungkinkan para guru terbaik dapat mengajar secara real-time kepada para murid di berbagai daerah.
Namun, diakuiAbdul Mu’ti, tantangan PJJ ini, salah satunya adalah bagaimana mengintegrasikan PJJ dengan Pembelajaran Mendalam. Implementasi PJJ tentunya beririsan dengan Pembelajaran Mendalam yang tidak hanya berfokus pada proses transfer dan transformasi pengetahuan semata, tetapi juga ada keterlibatan proses mental, kognitif, serta aspek pembelajaran lainnya yang terintegrasi secara utuh.
“Sekolah induk dan sekolah mitra terpilih memiliki peran penting bukan hanya sekadar menekan angka ATS, melainkan juga bagaimana membentuk karakter mereka dan mengembangkan kompetensi yang kuat. Semoga program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan berkualitas,” pungkas Abdul Mu’ti.
Melibatkan 21 sekolah induk
Tahun 2025 lalu, PJJ jenjang pendidikan menengah menggandeng Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Malaysia dan SMAN 2 Padalarang, Jawa Barat sebagai sekolah induk. Demikian, pada tahun 2026 PJJ jenjang pendidikan menengah akan melibatkan 21 sekolah induk, termasuk SIKK yang akan menjadi pusat komando penyelenggaraan dan penanggung jawab penuh PJJ di wilayah tersebut, termasuk untuk penyiapan guru PJJ, materi belajar, serta penerbitan ijazah untuk murid.
Selain 21 sekolah induk, program ini juga melibatkan 62 sekolah mitra yang akan berkolaborasi dengan sekolah induk sebagai unit layanan peserta didik, serta pusat dukungan belajar lokal, seperti penyediaan ruang belajar luring maupun tutor yang akan menjadi pendamping bagi murid PJJ jenjang pendidikan menengah.