Jakarta- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) masih membutuhkan guru-guru honorer dan menegaskan keberpihakannya kepada guru honorer yang berperan penting dalam mendukung proses pembelajaran.
“Guru-guru honorer yang saat ini masih ada, kami masih sangat membutuhkan. Kami menghimbau satuan pendidikan untuk tidak merumahkannya karena mereka tetap menjalankan fungsi penting dalam pembelajaran.”
Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani dalam Rapat Koordinasi Implementasi Program Prioritas Kemendikdasmen di Lampung, Senin (13/4) lalu.
Menurut Nunuk, setiap tahunnya, sekitar 70 hingga 80 ribu guru memasuki masa pensiun sehingga kekurangan guru terus terakumulasi. Karena itu, pemenuhan kebutuhan guru masih menjadi isu strategis dan pemenuhan kebutuhan guru menjadi prioritas yang harus segera dituntaskan.
Selain soal pemenuhan jumlah guru, lanjut Nunuk, pemerintah terus berkomitmen menjalankan berbagai program prioritas, salah satunya penguatan profesionalisme guru.
“GTK melakukan berbagai program prioritas seperti penguatan profesionalisme guru, yang tujuannya adalah kesejahteraan melalui penuntasan sertifikasi dan peningkatan kualifikasi akademik,” jelasnya.
Untuk memperkuat profesionalisme guru, lanjutnya, Kemendikdasmen terus melakukan percepatan sertifikasi dan peningkatan kualifikasi akademik guru. Saat ini, capaian sertifikasi secara nasional telah melampaui 92 persen.
“Secara nasional kita sudah mencapai di atas 92 persen guru tersertifikasi. Sisanya adalah yang belum memenuhi kualifikasi S1, dan ini kita dorong melalui program beasiswa kualifikasi D4/S1,” ujarnya.
Namun, diakui Nunuk, pemerintah dihadapkan pada keterbatasan anggaran.Karena itu, Nunuk mendorong pemerintah daerah ikut memikirkan peningkatan kompetensi dan kesejahteraan Guru.
“ Pemda kita dorong melalui pelatihan guru berbasis komunitas, yakni berbasis kelompok kerja guru agar mereka bisa terus belajar secara kolaboratif,” tegasnya.